Ingin kubenamkan punggungku
pada lekuk bantar kasurMU
Pada petang lesu
yang penuh karang lenguh
Menanti makna atas serpih-serpih ironi
yang mungkin bakal KAU bisiki
Ketika waktu menghempasku perlahan
Hingga 22 tahun Kau biarkan aku ada
Karena desah risauku
hanya makin mengirisku sembilu
Benarkah KAU ada juga untuk keyakinanku yang rentah?
Kala aku cuma mampu mendekam dalam gegap mendungMU yang kelam
Sedang isak tangisku terus terkungkung pada sudut hariku yang kusam
Yang bahkan gagak jinak pun tak mampu menggiringnya keluar
Jujur aku datang karena rinduku pada serabut Edelweis janjiMU
Meski kabut suram menindih asaku kecut
Karena pijar CintaMU terasa belum cukup
menghalau nelangsaku jadi teduh
Haruskah aku mempertajam pori-pori
Agar tak salah lagi menafsir semilir anginMU yang menjerit
Karena sampai kapan pun itu
Ku kan tetap tunduk menunggu,
sampai deru janjiMU datang
sebelum waktu keburu berlalu
15 mei 2010
(puisi di tulis dipuncak Gunung Arjuno JAwa Timur)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar